Sifat Allah Qodim


Pertanyaan2 yg tidak munkin terjawab itu antar lain :

A. Jika Allah itu tidak Qodim tentu Hdist (baru), sesutu yg baru pasti ada yg membarukan. Sipa yg sanggup membuat Dzat yg Maha Kusa?
B. Jika memang ada yg menciptakan Dzat Yg Maha Kuasa tentu pencipta itu lebih Kuasa dr yg di ciptkan, berarti ?…………..
C. Siapakah yg menciptakan pencipta itu selanjutnya??? Bukankah setiap sesuatu yg wujud itu membutuhkan pencipta pula??

Tentu jawaban2 di atas akan menimbulkan pertnyaan2 baru yg tidak berujung. Itulah yg di sebut Daur atau Tasalsul (perputaran siklus yg tidk berhenti dn tidak berujung / mata rantai proses yg saling berkait). Adapun Daur Tasalsul itu tidak mungkin terjadi kepada siapapun!!!.

Maka sudah terang dn nyata bhw Allah bershifat Qodim, dn jika Qodim tentu bukan Hadist. Krena antara keduanya adalah saling belawanan satu sama lain. Maka wajib bhw Allah berShifat Qodim dn Muhal BerShifat Hadist.
Oh ya, kemarin lupa tidak berdalil dg Hadist, gak keren dooong…..!
أ . عن أبي هريرة قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إذا أوى إلى فراشه أللهم رب السموات والأرض ورب كل شيئ فالق الحب والنوى منزل التوراة والإنجيل والقرآن أعوذ بك من كل ذي شر أنت آخذ بناصيته أنت (لأول) فليس قبلك شيئ وأنت الآخر فليس بعدك شيئ وأنت الظاهر فليس فوقك شيئ وأنت الباطن فليس دونك شيئ اقض ني الدين وأغنني ن الفقر (آدب المفرد)
Dari Abu Huroiroh ra berkata : adalah Roslllah saw, ketika berdiam ketempat tidur Beliau berdoa : Whai Allah Tuhan Langit dn Bmi, dn Tuhan segala sesatu, yg membelah biji dn benih, yg menurunkan Taurot, Injil dan Al quran. Aku berlindung dgMu dari segala yg meliki kejelekan yg Engka Kuasa atasnya. Engkaulah Yg (Awwal), maka tidak ada sesuatupun sebelum Engkau, dan EngkaulahY g Maha Ahir, maka tidak ada sesuatupun sesudah Engkau (dalam KeTuhanan). Dan Engkalah Yg Maha Jelas, maka tidak ada sesutupun yg melampaui Engkau. Dan Engkau Yg Maha Tersembunyi, maka tidak ada sesuatupun yg merendahkan Engkau. Bayarkanlah hutangku dn perkayalah diriku dari feqir.
Dan banyak lagi Hadist2 yg senada, yg diriwayatkan oleh berbagai perowi, antara lain : Imam Tirmidli dalam kitab Al Jami’u al Shohih, Imam Baihaqi dalam Kitab Al Sunanu Al Kubro dll.
Demikianlah, Ummat Islam Ahlus Sunnah Wa Ljama’ah sejak zaman dahulu hingga sekarang telah sepakat akan Qidamnya Allah, baik dr segi Dzat maupun ShifatNya. Dan itu memang sesuai dg petunjuk Al Quran, Hadist dan Nalar.

Ahlu al sunnah w aljama’ah sepakat bhw Allah itu bershifat Qidam sesuai dg petunjuk Al quran, Hadist dn Akal.
Selenjutnya untuk menghindari kesalah pahaman arti Qodim pada umumnya, sebaiknya kita ketahui pula Klasifikasi Qodim itu menurut penggunaan arti yg berlaku dalam bahasa Manusia. Yaitu :
A. Qodim Dzati : yg di Maksud adalah Qodimnya Dzat dn Shifat Allah sebagaimana yg telah di uraikan di atas.
B. Qodim Zamani : yg di maksud adalah Arti dahulu yg berkaitan dg waktu. Contoh: Siang mendahului malam. Dan ini mustahil bagi Allah, sebab Allah tidak di liputi dg Zaman. Jika Allh di liputi Zaman tentu berpermulaan, dn jik berpermulaan berarti bershifat sama dg hawadist, padahal Allah tidak sama dg Hawadist!!!
C. Qodim Idlofi : ini seperti dahlnya seorang Ibu daripada Seorang Anak. Dn ini juga Mstahil Bagi Allah.
Nah, jika ada pernyatan bahwa Alam itu Qodim, sebagaimana pernyataan yg kemudian di jadikan keyakinan Mutlaq, sebagaimana yg di maksud dalam Qodim Dzati, maka keyakinan seperti itu jelas BID’AH adanya. Tidak ada satupun Ayat, sepotong Hadist dn bahkan Nalar sekalipun yg membuktikan secara akademis.
Jika Qidam itu tidak di percaya sebagai Shifat Allah, dg alasan tidak terdaptnya Asma Al husnaNya Allah, dn itu adalah sebuah penetapan yg di bat2 oleh Ahlu Al Bid’ah, maka jawabnya adalah :
A. Allah menetapkan Asma Yg Dia pilih sendiri sesuai kehenaknya. Asma Allah itu Tauqifiyyah (Penetapan Langsung dari Allah). Kita tidak boleh memanggil Allah dg Nama yg sesuai dg kemauan kita sendiri dg meyakini bhw panggilan it adalah layak, sebagaimana Asmal Husna. Adapun Panggilan yg lazim di ucapkan oleh kebanyakan Qobilah, Suku dan Bangsa kepada Allah itu hanyalah bentk apresiasi ungkapan dr penyebutan ShifatNya saja. Dg Syarat maksud dari penyebutan itu adlah untk mengagungkan sesuai Shifat KesemprnaaNya. Contoh Sang Akaryo jagat, dll.
B. Tidak semua Shifat itu kemudian di jadikan sebuah panggilan yg bagus (Asma Husna). Contoh : Sifat WujudNya. Gak ada tuh di dalam Asmaul Husna, Yaaa Wujud/ Al Wujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s